Nama : Rezky Ardian
Sepputra
Kelas : 3ID14
NPM : 39414203
Mata Kuliah : Metode
Penelitian
Tugas Tulisan Tentang
Falsafah Ilmu Pengetahuan
Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah
segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal
yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari
kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran
yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan
saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat
pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu
setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan
pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari
pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980)
bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan
pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan
heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja
kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia
(Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh
karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari
ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain
seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar,
mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut
Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai
ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan
objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu
cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami
apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
C.Pengertian Ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha
sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi
kenyataan dalam alam manusia.
Beberapa pendapat para ahli tentang ilmu
pengetahuan :
Harold
H. Titus mendefinisikan “Ilmu (Science) diartikan sebagai common
science yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap
benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi
yang teliti dan kritis).
Dr.
Mohammad Hatta mendefinisikan “Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang teratur
tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik
menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunannya dari
dalam.”
J.
Habarer mendefinisikan “ Suatu hasil aktivitas manusia yang merupakan
kumpulan teori, metode dan praktek dan menjadi pranata dalam masyarakat.”
Louis Leahy mendefinisikan “Pengetahuan merupakan suatu kekayaan dan kesempurnaan.
Seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik kalau dibanding dengan yang
tidak tahu apa-apa
The Liang Gie mendefinisikan “Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah
sesuatu kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur
mengenai pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa pengetahuan
menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkandung dalam ilmu.
1. Karakteristik Ilmu Pengetahuan
Karakteristik
ilmu pengetahuan di antaranya sebdagai berikut :
1. Konkrit, yaitu dapat diukur kebenarannya.
2. Kehadiran objek dan subjek tidak dapat dipisahkan atau
memiliki keterkaitan satu sama lainnya.
3. Tidak terbatas sehingga masih banyak ilmu
pengetahuan yang harus digali lagi dan tidak mempunyai keterbatasan tertentu.
4. Metodologi yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan
5. Rasionalis ; Penalarannya berdasarkan ide yang dianggap
jelas dan dapat diterima oleh akal.
6. Wahyu ; Tidak menggunakan penalaran, tetapi menggunakan
wahyu sebagai sumber pengetahuan.
7. Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik
bersama
8. Kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan
9. Obyektif tidak bergantung pada pemahaman secara pribadi
2. Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan
Menurut The Liang Gie
(1987) ilmu pengetahuan mempunyai 5 ciri pokok yaitu
:
1. Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan
dan percobaan
2. Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun
sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur
3. Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari
prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi
4. Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan
pokok soalnya ke dalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat,
hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu
5. Verifikatif, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun
juga.
Menurut Ismaun (2001)
mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
1. Obyektif; ilmu berdasarkan
hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional
subyektif,
2. Koheren; pernyataan/susunan
ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan;
3. Reliable; produk dan cara-cara
memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan
(reabilitas) tinggi,
4. Valid; produk dan cara-cara
memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan
(validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal,
5. Memiliki generalisasi;
suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum,
6. Akurat; penarikan kesimpulan
memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi, dan
7. Dapat melakukan prediksi; ilmu
dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.
3. Syarat-Syarat Ilmu :
Suatu pengetahuan dapat dikatakan
sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut
1. Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang
berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial).
2. Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di
dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu.
3. Pokok permasalahan (subject matter atau focus
of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji.
Jadi seluruh bentuk ilmu pengetahuan dapat digolongkan kedalam kategori ilmu pengetahuan dimana masing-masing bentuk dapat dicirikan oleh karakterristik obyek ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis.
Salah satu dari bentuk ilmu pengetahuan ditandai
dengan :
1. Obyek Ontologis : yaitu pengalaman manusia yakni segenap
wujud yang dapat dijangkau lewat panca indra atau alat yang membantu kemampuan
panca indra.
2. Landasan Epistemologis : metode ilmiah yang berupa
gabungan logika deduktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico
hypotetico verifikasi.
3. Landasan Aksiologis : kemaslahatan umat manusia artinya
segenap wujud ilmu pengetahuan itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup
manusia.
D.Peranan filsafat dalam Ilmu pengetahuan
Semakin banyak manusia tahu, semakin banyak pula
pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Manusia ingin tahu tentang asal dan
tujuan hidup, tentang dirinya sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasannya,
dan berbagai hal lainnya. Sikap seperi ini pada dasarnya sudah menghasilkan
pengetahuan yang sangat luas, yang secara metodis dan sistematis dapat dibagi
atas banyak jenis ilmu.
Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam
mengorientasikan diri dalam dunia dan memecahkan berbagai persoalan hidup.
Berbeda dari binatang, manusia tidak dapat membiarkan insting mengatur
perilakunya. Untuk mengatasi masalah-masalah, manusia membutuhkan kesadaran
dalam memahami lingkungannya. Di sinilah ilmu-ilmu membantu manusia
mensistematisasikan apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses
pencariannya.
Pada abad modern ini, ilmu-ilmu pengetahuan telah
merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena
ilmu-ilmu pengetahuan banyak membantu manusia mengatasi berbagai masalah
kehidupan. Prasetya T. W. dalam artikelnya yang berjudul “Anarkisme dalam Ilmu
Pengetahuan Paul Karl Feyerabend” mengungkapkan bahwa ada dua alasan mengapa
ilmu pengetahuan menjadi begitu unggul. Pertama, karena ilmu
pengetahuan mempunyai metode yang benar untuk mencapai hasil-hasilnya. Kedua,
karena ada hasil-hasil yang dapat diajukan sebagai bukti keunggulan ilmu
pengetahuan. Dua alasan yang diungkapkan Prasetya
tersebut, dengan jelas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memainkan peranan
yang cukup penting dalam kehidupan umat manusia.
Akan tetapi, ada pula tokoh yang justru anti terhadap
ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh yang cukup terkenal dalam hal ini adalah
Paul Karl Feyerabend. Sikap anti ilmu pengetahuannya ini, tidak berarti anti
terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi anti terhadap kekuasaan ilmu
pengetahuan yang kerap kali melampaui maksud utamanya. Feyerabend menegaskan
bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak menggunguli bidang-bidang dan bentuk-bentuk
pengetahuan lain. Menurutnya, ilmu-ilmu pengetahuan menjadi lebih unggul karena
propaganda dari para ilmuan dan adanya tolak ukur institusional yang diberi
wewenang untuk memutuskannya.
Sekalipun ada berbagai kontradiksi tentang keunggulan
ilmu pengetahuan, tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya
memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat. Hal ini tidak
terlepas dari peranan ilmu pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi
masalah-masalah hidupnya, walaupun kadang-kadang ilmu pengetahuan dapat pula
menciptakan masalah-masalah baru.
Meskipun demikian, pada kenyataannya peranan ilmu
pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi masalah kehidupannya sesungguhnya
terbatas. Seperti yang telah diungkapkan pada bagian pendahuluan, keterbatasan
itu terletak pada cara kerja ilmu-ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri
pada tujuan atau bidang tertentu. Karena pembatasan itu, ilmu pengetahuan tidak
dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan manusia. Untuk
mengatasi masalah ini, ilmu-ilmu pengetahuan membutuhkan filsafat. Dalam hal
inilah filsafat menjadi hal yang penting.
C.Verhaak dan R.Haryono Imam dalam bukunya yang berjudul Filsafat
Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, menjelaskan dua
penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu. Pertama, filsafat
ikut menilai apa yang dianggap “tepat” dan “benar” dalam ilmu-ilmu. Apa yang
dianggap tepat dalam ilmu-ilmu berpulang pada ilmu-ilmu itu sendiri. Dalam hal
ini filsafat tidak ikut campur dalam bidang-bidang ilmu itu. Akan tetapi,
mengenai apa kiranya kebenaran itu, ilmu-ilmu pengetahuan tidak dapat
menjawabnya karena masalah ini tidak termasuk bidang ilmu mereka. Hal-hal yang
berhubungan dengan ada tidaknya kebenaran dan tentang apa itu kebenaran dibahas
dan dijelaskan oleh filsafat. Kedua, filsafat memberi
penilaian tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan manusia
guna mencapai kebenaran.
Dari
dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu di atas, dapat dillihat bahwa
ilmu-ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu pasti) tidak langsung berkecimpung dalam usaha
manusia menuju kebenaran. Usaha ilmu-ilmu itu lebih merupakan suatu sumbangan
agar pengetahuan itu sendiri semakin mendekati kebenaran. Filsafatlah yang
secara langsung berperan dalam usaha manusia untuk mencari kebenaran. Di dalam
filsafat, berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan kebenaran dikumpulkan dan
diolah demi menemukan jawaban yang memadai.
Franz
Magnis Suseno mengungkapkan dua arah filsafat dalam usaha mencari jawaban dari
berbagai pertanyaan sebagai berikut: pertama, filsafat harus
mengkritik jawaban-jawaban yang tidak memadai. Kedua, filsafat
harus ikut mencari jawaban yang benar. Kritikan dan
jawaban yang diberikan filsafat sesungguhnya berbeda dari jawaban-jawaban lain
pada umumnya. Kritikan dan jawaban itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara
rasional.
Pertanggungjawaban
rasional pada hakikatnya berarti bahwa setiap langkah harus terbuka terhadap
segala pertanyaan dan sangkalan, serta harus dipertahankan secara argumentatif
dengan argumen-argumen yang objektif. Hal ini
berarti bahwa kalau ada yang mempertanyakan atau menyangkal klaim kebenaran
suatu pemikiran, pertanyaan dan sangkalan itu dapat dijawab dengan argumentasi
atau alasan-alasan yang masuk akal dan dapat dimengerti.
Dari berbagai penjelasan di atas, tampak jelas bahwa
filsafat selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat
dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil
berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan
dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara
rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa
harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi
demi mencapai kebenaran yang dicari.
Inilah yang menunjukkan kekhasan filsafat di hadapan
berbagai ilmu pengetahuan yang ada. Filsafat selalu terbuka untuk berdialog dan
bekerjasama dengan berbagai ilmu pengetahuan dalam rangka pencarian akan
kebenaran. Baik ilmu pengetahuan maupun filsafat, bila diarahkan secara tepat
dapat sangat membantu kehidupan manusia.
Membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang
terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. Kearifan memperbaiki
paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan
seiring dengan tantangan zaman, karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan
dirinya sendiri, tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia
Hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia
didominasi oleh pendekatan filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan
melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir
ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan.antara ilmu Pengetahuan dan
ilmu Filsafat ada persamaan dan perbedaannya.Ilmu Pengetahuan bersifat
Posterior kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara
berulang-ulang sedangkan Filsafat bersifat priori kesimpulannya ditarik tanpa
pengujian,sebab Filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti yang
dimiliki ilmu karena Filsafat bersifat Spekulatif.Disamping adanya perbedaan
antara ilmu dengan filsafat ada sejumlah persamaan yaitu sama-sama mencari
kebenaran.Ilmu memiliki tugas melukiskan filsafat bertugas untuk menafsirkan
kesemestaan aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab
pelukisan fakta sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana
sesungguhnya fakat itu darimana awalnya dan akan kemana akhirnya
Daftar pustaka :
Bahm, Archie, J., 1980.,
“What Is Science”, Reprinted from my Axiology; The Science Of Values; 44-49,
World Books, Albuquerqe, New Mexico, p.1,11.
The Liang Gie., 1999., Pengantar Filsafat
Ilmu”, Cet. Ke-4, Penerbit Liberty Yogyakarta, p.29, 31, 37, 61, 68, 85, 93,
159, 161.
Koento Wibisono S. dkk., 1997.,
“Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara,
Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.
Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat
Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya Pencapaian Perdamaian Dunia Yang
Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca Sarjana UGM Yogyakarta p.3, 14-16
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar