Senin, 14 November 2016

tugas proposal

PROPOSAL TUGAS
USULAN PENCEGAHAN KESALAHAN DALAM PERUSAHAAN MENGGUNAKAN METODE 5S DI LAZADA INDONESIA
    
    

Disusun Oleh:

Nama Anggota                      : 1. Ansar Septian                              / 31414421
                                                  2. Dwi Putra Ardiles                        / 33414313
                                                  3. Gilang Putra U                            / 34414559
                                                  4. M. Dicky Renaldy                       / 36414222
                                                  5. Rezky Ardian                              / 39414203
                                                  6. Yudha Tris A                               / 3C414500
                                                 


JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
BEKASI
2016




Halaman judul

Daftar Isi …………………………………………………………………………………….1
Judul …………………………………………………………………………………………3
Latar Belakang ………………………………………………………………………………3
Perumusan Masalah …………………………………………………………………………3
Pembatasan Masalah …………………………………………………………………….....4
Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………………4
Landasan Teori ………………………………………………………………………………5
Metodologi Penulisan ………………………………………………………………………..6
Tata Laksana ………………………………………………………………………………...8
Laporan ………………………………………………………………………………………8






























     I.              JUDUL
USULAN PENCEGAHAN KESALAHAN DALAM PERUSAHAAN MENGGUNAKAN METODE 5S DI LAZADA INDONESIA
II.              Latar belakang
Adanya  dengan perkembangan zaman yang semakin maju, manusia semakin banyak memiliki kebutuhan yang harus terpenuhi baik berupa kebutuhan primer, sekunder atau pun tersier, dari banyaknya kebutuhan tersebut  selalu terdapat keinginan pelanggan yang ingin mencapai kebutuhan nya secara efisien dan cepat. Darisitu terdapat peluang usaha bagi para pengusaha untuk dapat memuasakan kebutuhan para pelanggan tersebut salah satu caranya  dengan membuka tempat penjualan barang secara online atau toko online. Di zaman yang modern ini hal semacam itu sangat bermanfaat dan disukai oleh banyak orang untuk memenuhi kebutuhan nya dalam mendapatkan barang yang diiginkan nya, dikarenakan penjualan barang secara online sangat mempermudah banyak orang dalam mendapatkan kebutuhan yang diperlukannya didalam kesibukan yang dijalani setiap hari.
  LAZADA Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang penjualan barang secara online. Banyak sekali orang yang menggunakan dan berbelanja barang secara online dikarenakan proses nya mudah , serta membantu manusia yang ingin memenuhi kebutuhan barang yang diiginkan disaat melakukan aktivitas yang sangat padat dan sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk pergi berbelanja secara langsung.
Dalam proses penyimpanan digudang   yang dilakukan LAZADA Indonesia sebelum barang dikirim sering terjadi masalah dalam penyusunan barang yang disimpan di rak penyimpanan di karenakan tidak sesuai dengan tempat yang seharusnya, dan sering terjadi keteledoran pengambilan barang dari gudang yang dilakukan oleh karyawan dikarenakan barang yang diambil tidak menggunakan alat atau mesin yang ditetapkan untuk mengambil barang. Sehingga perlu dilakukan perbaikan oleh perusahaan tersebut dalam mengatasi masalah yang terjadi.

   III.          PERUMUSAN MASALAH
Permintaan-permintaan pelanggan supaya dapat memuasakan, perusahaan  harus menjalankan proses produksinya dengan maksimal. Artinya, masalah-masalah pada perusahaan  harus dapat dihindari. Jika  sering terjadi keteledoran dalam pengambilan barang dari gudang yang dilakukan oleh karyawan dan ketidaksesuain dalam penyimpanan tata letak barang pada rak penyimpanan maka proses dalam pengiriman kepada konsumen akan mengalami masalah  dan akan menimbulkan penurunan kepercayaan konsumen terhadap perusahaan. Melihat adanya masalah tersebut, perlu dilakukan langkah-langkah yang dapat mencegah atau meminimasi terjadinya permasalahan tersebut. Dari permasalahan yang di hadapi perusahaan tersebut dapat di atasi dengan menggunakan metode 5S (Seiri, Seiton, Sheisou, Sheiketsu, Shitsuke).
IV.              PEMBATASAN MASALAH
Metode 5S adalah memanfaatkan tempat kerja (yang mencakup peralatan, dokumen, bangunan dan ruang) untuk melatih kebiasaan para pekerja dalam usaha meningkatkan disiplin kerja yang dimulai dengan Ringkas-Pemilahan (Seiri), Rapi-Penataan (Seiton), Resik-Pembersihan (Seiso), Rawat-Pemantapan (Seiketsu). Ringkas-Pemilahan,  Rapi-Penataan dan Resik-Pembersihan dimulai pada saat bersamaan yang sesuai dengan prosedur standar yang ditetapkan pada Rawat-Pemantapan. Apabila karyawan telah memenuhi seluruh kegiatan tersebut di atas, maka ia harus melakukan tahap yang terakhir yaitu Rajin-Disiplin (Shitsuke).
Konsep 5S sebenarnya juga mengajarkan tentang  pola kedisiplinan yang  terus menerus  dan tidak kenal menyerah. Kedisiplinan  menimbulkan etos kerja yang baik bagi karyawan, dalam perushaaan apapun kedisiplinan ini sangat diperlukan bahkan  ketika mereka harus menjual produk dipasaran, kedisiplinan juga perlu dilakukan. Konsep 5S mungkin akan membantu anda untuk meningkatkan penjualan dalam perusahaan sekalipun dalam pelaksanaannya masih sangat membutuhkan kesabaran. Dalam pelaksaaan 5 S ada beberapa kata kunci yang harus dipahami, yaitu:
1.      Melakukan perubahan terhadap moral kerja
2.      Keselamatan kerja
3.      Efisiensi pekerjaan
  V.              Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan akhir ini ada;ah Memberikan usulan-usulan yang membangun terhadap perusahaan tentang penerapan metode 5S dalam perusahaan tersebut.


 VI.            Landasan teori
  1. Seira (Pemilahan)
Konsep ini  berhubungan dengan pemilahan barang atau produk yang sangat bermanfaat untuk proses  suatu pabrik atau perusahaan.   Pastikan tiap barang   yang berbeda  jenis  maupun keperluan  dipisahkan. Dengan memisahkan barang atau produk yang sama   dalam satu   box  yang sama dimaksudkan  agar  tidak sampai ke tangan pelanggan. Pencampuran barang yang sama kadang bisa sampai ke tangan pelanggan.
  1. Seiton ( Penataan)
Pertama yang dilakukan  pada tahap  diatas adalah memilih barang-barang yang berbeda jenisnya, berbeda keperluannya maupun berbeda tujuannya, setelah tahap tersebut maka langkah berikutnya adalah menata barang-barang. Barang-barang ditata dengan cara memberikan identitas dengan jelas agar tidak campur satu sama lain.Untuk menata  produk maka hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan pola  penyimpanan  yang lebih rapi yang berasal dari warna box yang berbeda. Untuk penataan maka warna box bisa dibuat berbeda. Sebagai contoh, warna box biru untuk produk A, warna box kuning untuk produk B dan sebagainya. Ada banyak cara untuk menandai beberapa produk yang ada pada box yang berbeda-beda.
  1. Seisou (Pembersihan)
Bersih-bersih sebenarnya bukan sebagai aktivitas  khusus dari suatu pekerjaan, tapi  pekerjaan ini merupakan kesatuan yang menjadi keseharian dari jadwal kerja seseorang.  Dengan menggunakan Seiso ini maka area kerja bisa tetap bersih setelah mengerjakan pekerjaan maupun saat memulai pekerjaan tersebut. Dalam konsep ini maka akan menghindarkan dari kesalahan ataupun hal yang aneh saat bekerja.
  1. Seiketsu (Perawatan)
Merawat lingkungan kerja yang sudah rapi dan bersih menjadi suatu standard kerja. Setiap karywan juga harus memelihara barang dengan teratur rapi dan bersih juga dalam aspek personal dan kaitannya dengan polusi agar barang-barang digudang tetap terjaga dan tidak mengalami perubahan fisik seperti rusak, kotor, dll.

  1. Shitsuke (Pendisiplinan)
Konsep ini merupakan fase terakhir dari serangkaian konsep 5S, penetapan pendisiplinan ini  merupakan proses panjang yang berkelanjutan. Setelah konsep 4S dilaksanakan secara terus menerus  dan berjalan dengan baik maka akan menajdi kebiasaan bagi orang dilingkungan sekitar. Sebagai S ke-5, Seiketsu  menjadi  penyempurna dari  konsep 4S yang lainnya. Dari konsep-konsep tersebut kemudian  akan menjadi bagian penting suatu perusahaan untuk mempertahankan  kedudukannya dengan  perusahaan lainnya. Pada konsep pendisiplinan tersebut   diharapkan terus dipertahankan dan diperbaiki secara berkelanjutan   melalui inovasi-inovasi . Prinsip 5S kelihatannya memang sepele dan simple namun  jika dilaksanakan dengan baik dalam pekerjaan sehari-hari akan berdampak bagus untuk meningkatkan produktifitas maupun efisiensi tiap aktifitas yang anda lakukan. Banyak manfaat yang bisa diambil dari konsep ini ketika perusahaan menggunakan konsep 5S untuk perusahaan mereka. Jika semua konsep  di atas dilakukan secara terus  menerus maka perusahaan akan mudah menjalankan operasionalnya bahkan akan tertanam sikap yang professional pada karyawan.
VII.            Metodologi penulisan

                             
Ø Langkah-langkah pemecahan masalah :
1.    Mulai
2.    Studi lapangan, bertujuan untuk melakukan penelitian terhadap perusahaan yang akan diteliti.
3.    Studi literatur, mencari teori-teori yang berhubungan dengan penelitian
4.    Latar belakang masalah, berisi tentang latar belakang dilakukannya penelitian ini, yaitu; berdasarkan permasalahan yang terjadi dalam perusahaan tersebut kami memberikan usulan terhadap perusahaan untuk melakukan penelitian. Penelitian yang kami lakukan ini bertujuan untuk menganalisis dan memerikan solusi yang membantu karyawan untuk mengoptimalkan pekerjaannya, dimana pada penelitian ini kami menggunakan metode 5S (seiri, seiton, seiso, seiketsu dan shitsuke).
5.    Perumusan masalah, merupakan rumusan- rumusan masalah yang akan dicari solusi pemecahannya, yaitu; Apakah kendala-kendala yang dihadapi oleh karyawan dalam menerapkan metode 5S dalam system kerjanya.
6.    Tujuan penelitian, merupakan tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu; menganalisis kendala-kendala yang dihadapi oleh karyawan dalam menerapkan metode 5S dalam system kerjanya.
7.    Pengumpulan data, yaitu langkah yang dilakukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalan penelitian, dalam penelitian kali ini data yang dikumpulkan berupa kendala-kendala yang dihadapi karyawan dalam menerapkan metode 5S.
8.    Melakukan pengolahan data, langkah ini adalah langkah yang digunakan untuk mengolah data yang telah dikumpulkan. Pengolahan data pada penelitian ini adalah menganalisis kendala-kendala yang dihadapi karyawan dalam menerapkan metode 5S.
9.    Analisis, melakukan analisis terhadap hasil dari data yang telah diolah tersebut.
10.              Kesimpulan dan saran, menyimpulkan hasil penelitian dan memberikan saran-saran yang membangun terhadap pihak perusahaan.






 VIII.      TATA LAKSANA
1.        Waktu
Kegiatan kerja praktek akan dilaksanakan pada tanggal 7 November 20016 hingga 28 Desember 2016.
2.      Lokasi
Lokasi kerja praktek yaitu LAZADA INDONESIA WAREHOUSE-PUNINAR LOGISTICS yang berlokasi di Jl. Inspeksi Kirana, Nagrak, Cakung Drain – Cilincing, Jakarta Utara 14120.
 IX.            LAPORAN

            Laporan pelaksanaan  kerja  praktek  akan  disusun  dalam  bentuk  laporan tertulis   setelah  kegiatan selesai dilaksanakan dengan bimbingan dosen pembimbing dan akan dinilai dalam sidang kerja praktek.

Jumat, 04 November 2016

artikel tentang skala pengukuran dan instrumen penelitian

Nama : Rezky Ardian Sepputra
Npm : 39414203
Kelas : 3ID14
Artikel tentang skala pengukuran dan instrument penelitian

SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN

Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik, peneliti akan lebih banyak menjadi instrumen, karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan key instruments.
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang akan diteliti. Instrumen Penelitian digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala.
A.    Macam-macam Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur.sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas, dibuat dengan skala mg dan akan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur, meteran sebagai instrumen untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akan menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.
Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan sosial antara lain:
1.      Skala Likert
2.      Skala Guttman
3.      Rating Scale
4.      Semantic Deferential
Kelima jenis skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran, akan mendapatkan data interval, atau rasio. Hal ini akan tergantung pada bidang yang akan diukur.
1.      Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.[1]
Contoh jawaban setiap item dalam instrumen yang menggunakan skalaLikert berupa kata-kata dalam pilihan ganda  ataupun checklist dan diuraikan secara lebih terperinci, misal penggunaan kata-kata sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju.
Contoh:
SS = Sangat Setuju
ST = Setuju
RG = Ragu-ragu
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju

b.      Contoh bentuk pilihan ganda
Pertanyaan:
Kurikulum baru itu akan segera diterapkan di lembaga pendidikan Anda?
Pilihan jawaban:
a.       Sangat Setuju
b.       Setuju
c.       Ragu-ragu
d.      Tidak Setuju
e.       Sangat Tidak Setuju

2.      Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas, yaitu ya-tidak, benar-salah, pernah-tidak pernah, positif-negatif, dan lain-lain. Jadi kalau pada skala Likert terdapat 3,4,5,6,7 interval, dari kata sangat setuju sampai sangat tidak setuju, maka dalam skala Guttman hanya ada 2 interval yaitu setuju atau tidak setuju. Penelitian ini dilakukan bila ingin mendapat jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibentuk dalam bentuk cheklist.


Contoh;
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat Kepala Sekolah di sini?
Jawab:
a.       Setuju
b.      Tidak Setuju

3.      Semantic Defferensial
Skala pengukuran yang berbentuk semantic differensial dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun cheklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat positifnya” terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang “sangat negative” terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya.
4.      Rating Scale
Dari  ketiga skala pengukuran diatas, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
 Rating scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi reponden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan,  kemampuan, dan proses kegiatan lainnya.
Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen.

B.     Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian.[2]
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur penelitia disebut instrumen penelitian.
Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data kita gunakan metode wawancara, maka didalam melaksanakan pekerjaan wawancara ini, pewawancara menggunakan alat bantu. Secara minimal alat bantu tersebut berupa ancer-ancer pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai catatan, serta alat tulis untuk menuliskan jawaban yang diterima. Ancer-ancer ini disebut pedoman wawancara. Oleh karena pedoman wawancara ini merupakan alat bantu, maka disebut juga instrumen pengumpulan data. dengan demikian jika menggunakan metode wawancara, instrumennya adalah pedoman wawancara.[3]


C.    Jenis- jenis Instrumen Pengumpulan Data
Secara garis besar alat evaluasi dalam pengumpulan data ada 2 macam, yaitu tes dan non tes.
1.      Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Bebrapa macam tes, contohnya:
a.       Tes kepribadian
b.      Tes bakat
c.       Tes intelegensi
d.      Tes sikap
e.       Tes minat
f.       Tes prestasi
Dalam menggunakan metode tes, peneliti menggunakan instrumen berupa tes atau soal-soal tes.
2.      Angket atau kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.
Kuesioner dapat dibedakan atas bebrapa jenis , tergantung pada sudut pandang.
a.       Dari cara menjawab:
1)      Kuesioner terbuka, responden dapat menjawab dengan kalimatnya sendiri
2)      Kuesioner tertutup, adanya pilihan jawaban
b.      Jawaban yang diberikan:
1)      Kuesioner langsung, responden menjawab tentang dirinya
2)      Kuesioner tidak langsung, responden menjawab tentang orang lain .
c.       Dari bentuknya;
1)      Kuesioner pilihan ganda
2)      Kuesioner isian
3)      Check list
4)      Rating Scale
3.       Interview atau wawancara
Interview yang sering disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang. Misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu.
Ditinjau dari pelaksanaannya , interview dibedakan atas:
a.       Interview bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja
b.      Interview terpimpin, pewawancara membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci seperti yang dimaksud dalam interview terstruktur,
c.       Interview bebas terpimpin, gabungan dari dua Interview diatas
4.      Observasi
Observasi sebagai suatu aktivitas yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata. Didalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Apa yang dikatakan ini sebenarmya adalah pengamatan langsung. Didalam artian penelitian observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman suara.
Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1.      Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan.
2.      Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan.
5.      Skala Bertingkat atau Rating Scale
Skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala. Walaupun bertingkat ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama penampilan didalam orang menjalankan tugas, yang menunjukan frekuensi munculnya sifat-sifat.
Rating scale dapat juga menghasilkan gambaran yang kasar dari jawaban responden sehingga tidak mudah percaya begitu saja. Hal-hal yang mempengaruhi tersebet antara lain persahabatan, kecepatan menerka, cepat memutuskan, jawaban kesan pertama, dan sebagainya
6.      Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian,dan sebagainya. [4]



D.    Cara Menyusun Instrumen
Instrumen-instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya bidang administrasi yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat instrumen yang akan digunakan untuk penelitian.
Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan.
Sebagai contoh misalnya variabel penelitiannya ‘tingkat kekayaan’ indikator kekayaan misalnya: rumah, kendaraan, tempat belanja,pendidikan, jenis makanan yang sering dimakan, jenis olah raga yang dilakukan dan sebagainya. Untuk indikator rumah, bentuk pertanyaannya misalnya:1) berapa jumlah rumah, 2) dimana letak rumah, 3) berapa luas masing-masing rumah, 4) bagaimana kualitas bangunan dan sebagainya.
Untuk bisa menetapkan indikator dari setiap variabel yang diteliti, maka diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang diteliti, dan teori-teori yang mendukungnya. Penggunaan teori untuk menyusun instrumen harus secermat mungkin agar diperoleh indikator yang valid. Caranya dapat dilakukan dengan membaca berbagai referensi (seperti buku, jurnal) membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya yang sejenis, dan konsultasi pada orang yang dipandang ahli.[5]
1.      Pengadaan instrumen yang baik adalah,
a.       Perencanaan
b.      Penulisan butir soal
c.       Penyuntingan
2.      Pemilihan instrumen yang sesuai dengan metodenya.
a.       Instrumen untuk metode tes adalah tes atau soal tes
b.      Instrumen untuk metode angket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner
c.       Instrumen untuk metode observasi adalah chek list
d.      Instrumen untuk metode dokumentasi adalah pedoman observasi atau dapat juga check list.[6]
3.      Waktu pemilihan metode
a.       Angket, digunakan bila responden jumlahnya besar dapat membaca dengan baik, dan dapat menggungkapkan hal-hal yang sifatnya rahasia.
b.      Observasi, digunakan apabila objek penelitia bersifat perilaku manusia, proses kerja, gejala alam, responden kecil
c.       Wawancara, digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam serta jumlah responden sedikit
d.      Gabungan ketiganya, digunakan bila ingin mendapatkan dat yang lengkap, akurat dan konsisten.
E.     Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama
Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel.
Instrumen yang reliabel belum tentu valid. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan.
Pada dasarnya terdapat dua macam instrumen, yaitu instrumen yang berbentuk test untuk mengukur prestasi belajar dan instrumen yang non-test untuk mengukur sikap.
Instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Instrumen yang mempunyai validitas eksternal bila kriteria didalam instrumen disusun berdasarkan fakta-fakta empiris yang telah ada. Kalau validitas internal instrumen dikembangkan menurut teori yang relevan.
Penelitian yang mempunyai validitas internal, bila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan dan instrumen yang digunakan. Instrumen tentang kepemimpinan akan menghasilkan data tentang kepemimpinan, bukan motivasi. Penelitian yang mempunyai validitas eksternal bila, hasil penelitian dapat diterapkan pada sampel yang lain, atau hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan.

F.     Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1.      Pengujian Validitas Instrumen
a.       Pengujian Validitas Konstruksi (construct validity)
b.      Pengujian validitas isi (Content validity)
c.       Pengujian validitas eksternal

2.      Pengujian reliabilitas Instrumen
a.       Test-retest
b.      Ekuivalen
c.       Gabungan
d.      Internal Consistency.[7]

Referensi:
Prof. Dr.Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung, 2013

Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2013