Nama
: Rezky Ardian Sepputra
Npm
: 39414203
Kelas
: 3ID14
Artikel tentang skala
pengukuran dan instrument penelitian
SKALA PENGUKURAN DAN
INSTRUMEN PENELITIAN
Dalam
penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk
mengumpulkan data, sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik, peneliti
akan lebih banyak menjadi instrumen, karena dalam penelitian kualitatif
peneliti merupakan key instruments.
Instrumen penelitian
digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah
instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah
variabel yang akan diteliti. Instrumen Penelitian digunakan untuk
melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka
setiap instrumen harus mempunyai skala.
A. Macam-macam
Skala Pengukuran
Skala
pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan
panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur.sehingga alat ukur tersebut
bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai
contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas,
dibuat dengan skala mg dan akan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam
satuan mg bila digunakan untuk mengukur, meteran sebagai instrumen untuk
mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akan menghasilkan data kuantitatif
panjang dengan satuan mm.
Berbagai skala sikap yang
dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan sosial antara
lain:
1. Skala
Likert
2. Skala
Guttman
3. Rating
Scale
4. Semantic
Deferential
Kelima jenis skala tersebut
bila digunakan dalam pengukuran, akan mendapatkan data interval, atau rasio.
Hal ini akan tergantung pada bidang yang akan diukur.
1. Skala
Likert
Skala Likert digunakan
untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang
tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah
ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai
variabel penelitian.[1]
Contoh jawaban setiap item
dalam instrumen yang menggunakan skalaLikert berupa kata-kata dalam
pilihan ganda ataupun checklist dan diuraikan
secara lebih terperinci, misal penggunaan kata-kata sangat setuju, setuju, ragu-ragu,
tidak setuju, sangat tidak setuju.
Contoh:
SS = Sangat Setuju
ST = Setuju
RG = Ragu-ragu
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju
b. Contoh
bentuk pilihan ganda
Pertanyaan:
Kurikulum baru itu akan
segera diterapkan di lembaga pendidikan Anda?
Pilihan jawaban:
a. Sangat
Setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak
Setuju
e. Sangat
Tidak Setuju
2. Skala
Guttman
Skala pengukuran dengan
tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas, yaitu ya-tidak, benar-salah,
pernah-tidak pernah, positif-negatif, dan lain-lain. Jadi kalau pada skala
Likert terdapat 3,4,5,6,7 interval, dari kata sangat setuju sampai sangat tidak
setuju, maka dalam skala Guttman hanya ada 2 interval yaitu setuju atau tidak
setuju. Penelitian ini dilakukan bila ingin mendapat jawaban yang tegas
terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Skala Guttman selain dapat
dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibentuk dalam bentuk cheklist.
Contoh;
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat anda,
bila orang itu menjabat Kepala Sekolah di sini?
Jawab:
a. Setuju
b. Tidak
Setuju
3. Semantic
Defferensial
Skala pengukuran yang
berbentuk semantic differensial dikembangkan oleh Osgood.
Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan
ganda maupun cheklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang
jawaban “sangat positifnya” terletak dibagian kanan garis, dan
jawaban yang “sangat negative” terletak dibagian kiri garis,
atau sebaliknya.
4. Rating
Scale
Dari ketiga
skala pengukuran diatas, data yang diperoleh semuanya adalah data
kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating scale data
mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian
kualitatif.
Rating scale ini
lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk
mengukur persepsi reponden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk
mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan,
dan proses kegiatan lainnya.
Yang penting bagi penyusun
instrumen dengan rating scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang
diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen.
B. Instrumen
Penelitian
Pada prinsipnya meneliti
adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti
dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari
pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah
laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian.[2]
Pada prinsipnya meneliti
adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur
penelitia disebut instrumen penelitian.
Apabila kita katakan bahwa
untuk memperoleh data kita gunakan metode wawancara, maka didalam melaksanakan
pekerjaan wawancara ini, pewawancara menggunakan alat bantu. Secara minimal
alat bantu tersebut berupa ancer-ancer pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai
catatan, serta alat tulis untuk menuliskan jawaban yang diterima. Ancer-ancer
ini disebut pedoman wawancara. Oleh karena pedoman wawancara ini merupakan alat
bantu, maka disebut juga instrumen pengumpulan data. dengan demikian jika
menggunakan metode wawancara, instrumennya adalah pedoman wawancara.[3]
C. Jenis-
jenis Instrumen Pengumpulan Data
Secara garis besar alat
evaluasi dalam pengumpulan data ada 2 macam, yaitu tes dan non tes.
1. Tes
Tes adalah serentetan
pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur
keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok.
Bebrapa macam tes,
contohnya:
a. Tes
kepribadian
b. Tes
bakat
c. Tes
intelegensi
d. Tes
sikap
e. Tes
minat
f. Tes
prestasi
Dalam menggunakan metode
tes, peneliti menggunakan instrumen berupa tes atau soal-soal tes.
2. Angket
atau kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah
pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden
dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.
Kuesioner dapat dibedakan
atas bebrapa jenis , tergantung pada sudut pandang.
a. Dari
cara menjawab:
1) Kuesioner
terbuka, responden dapat menjawab dengan kalimatnya sendiri
2) Kuesioner
tertutup, adanya pilihan jawaban
b. Jawaban
yang diberikan:
1) Kuesioner
langsung, responden menjawab tentang dirinya
2) Kuesioner
tidak langsung, responden menjawab tentang orang lain .
c. Dari
bentuknya;
1) Kuesioner
pilihan ganda
2) Kuesioner
isian
3) Check
list
4) Rating
Scale
3. Interview
atau wawancara
Interview yang sering
disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah dialog yang
dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.
Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang. Misalnya
untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orang tua,
pendidikan, perhatian, sikap terhadap sesuatu.
Ditinjau dari
pelaksanaannya , interview dibedakan atas:
a. Interview
bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja
b. Interview
terpimpin, pewawancara membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci
seperti yang dimaksud dalam interview terstruktur,
c. Interview
bebas terpimpin, gabungan dari dua Interview diatas
4. Observasi
Observasi sebagai suatu
aktivitas yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata.
Didalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan
pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan
menggunakan seluruh alat indra. Apa yang dikatakan ini sebenarmya adalah
pengamatan langsung. Didalam artian penelitian observasi dapat dilakukan dengan
tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman suara.
Observasi dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu:
1. Observasi
non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen
pengamatan.
2. Observasi
sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai
instrumen pengamatan.
5. Skala
Bertingkat atau Rating Scale
Skala bertingkat adalah
suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala. Walaupun bertingkat ini
menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu
program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran
penampilan, terutama penampilan didalam orang menjalankan tugas, yang menunjukan
frekuensi munculnya sifat-sifat.
Rating scale dapat juga
menghasilkan gambaran yang kasar dari jawaban responden sehingga tidak mudah
percaya begitu saja. Hal-hal yang mempengaruhi tersebet antara lain
persahabatan, kecepatan menerka, cepat memutuskan, jawaban kesan pertama, dan
sebagainya
6. Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal
katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam
melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis
seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat,
catatan harian,dan sebagainya. [4]
D. Cara
Menyusun Instrumen
Instrumen-instrumen
penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya bidang administrasi yang
sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat
instrumen yang akan digunakan untuk penelitian.
Titik tolak dari penyusunan
adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari
variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan
indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi
butir-butir pertanyaan atau pernyataan.
Sebagai contoh misalnya
variabel penelitiannya ‘tingkat kekayaan’ indikator kekayaan misalnya: rumah,
kendaraan, tempat belanja,pendidikan, jenis makanan yang sering dimakan, jenis
olah raga yang dilakukan dan sebagainya. Untuk indikator rumah, bentuk pertanyaannya
misalnya:1) berapa jumlah rumah, 2) dimana letak rumah, 3) berapa luas
masing-masing rumah, 4) bagaimana kualitas bangunan dan sebagainya.
Untuk bisa menetapkan
indikator dari setiap variabel yang diteliti, maka diperlukan wawasan yang luas
dan mendalam tentang variabel yang diteliti, dan teori-teori yang mendukungnya.
Penggunaan teori untuk menyusun instrumen harus secermat mungkin agar diperoleh
indikator yang valid. Caranya dapat dilakukan dengan membaca berbagai referensi
(seperti buku, jurnal) membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya yang sejenis,
dan konsultasi pada orang yang dipandang ahli.[5]
1. Pengadaan
instrumen yang baik adalah,
a. Perencanaan
b. Penulisan
butir soal
c. Penyuntingan
2. Pemilihan
instrumen yang sesuai dengan metodenya.
a. Instrumen
untuk metode tes adalah tes atau soal tes
b. Instrumen
untuk metode angket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner
c. Instrumen
untuk metode observasi adalah chek list
d. Instrumen
untuk metode dokumentasi adalah pedoman observasi atau dapat juga check list.[6]
3. Waktu
pemilihan metode
a. Angket,
digunakan bila responden jumlahnya besar dapat membaca dengan baik, dan dapat
menggungkapkan hal-hal yang sifatnya rahasia.
b. Observasi,
digunakan apabila objek penelitia bersifat perilaku manusia, proses kerja,
gejala alam, responden kecil
c. Wawancara,
digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam
serta jumlah responden sedikit
d. Gabungan
ketiganya, digunakan bila ingin mendapatkan dat yang lengkap, akurat dan
konsisten.
E. Validitas
dan Reliabilitas Instrumen
Instrumen yang valid
berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid.
Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang
seharusnya diukur. Meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang
dengan teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran
tersebut menjadi tidak valid jika digunakan untuk mengukur berat. Instrumen
yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur
obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama
Dengan menggunakan
instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil
penelitian akan menjadi valid dan reliabel.
Instrumen yang reliabel
belum tentu valid. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian
validitas instrumen. Oleh karena itu walaupun instrumen yang valid umumnya
pasti reliabel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan.
Pada dasarnya terdapat dua
macam instrumen, yaitu instrumen yang berbentuk test untuk mengukur prestasi
belajar dan instrumen yang non-test untuk mengukur sikap.
Instrumen yang valid harus
mempunyai validitas internal dan eksternal. Instrumen yang mempunyai validitas
eksternal bila kriteria didalam instrumen disusun berdasarkan fakta-fakta
empiris yang telah ada. Kalau validitas internal instrumen dikembangkan menurut
teori yang relevan.
Penelitian yang mempunyai
validitas internal, bila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari
rancangan dan instrumen yang digunakan. Instrumen tentang kepemimpinan akan
menghasilkan data tentang kepemimpinan, bukan motivasi. Penelitian yang
mempunyai validitas eksternal bila, hasil penelitian dapat diterapkan pada
sampel yang lain, atau hasil penelitian itu dapat digeneralisasikan.
F. Pengujian
Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Pengujian
Validitas Instrumen
a. Pengujian
Validitas Konstruksi (construct validity)
b. Pengujian
validitas isi (Content validity)
c. Pengujian
validitas eksternal
2. Pengujian
reliabilitas Instrumen
a. Test-retest
b. Ekuivalen
c. Gabungan
d. Internal
Consistency.[7]
Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar